Apa Yang Harus Dilakukan Saat Ditilang Polisi?

GambarSepagian ini temen kantor ane @tatadipta, lagi badmood tingkat Karesidenan Purwodadi (emangnya ada?). Setelah ane interogasi ternyata dia abis kena tilang Polisi Lalu Lintas di Kawasan Tugu Muda. Dari versi @tatadipta, dia dari arah Pandanaran mau menuju ke arah RS Dr. Kariadi. Dia gak liat kalo belok kiri jalan terus. Sempet berhenti di jalur lurus (kondisi lampu masih menyala merah) kemudian dia ambil kiri dan belok kiri. Maka polisi segera meniupkan peluit dan memanggil temen ane. Kata polisi, Dipta melanggar marka jalan jadi ditilang. Karena gak mau ribet, akhirnya Dipta memberi uang titip sidang (begitu sih katanya) sebesar Rp 100.000,-. Dengan terpaksa sih :p . Tapi apa benar sih dendanya sebesar itu? Tidak dikasih nota/tanda terima apakah uang tersebut di setor ke kas negara atau tidak? Hanya polisi tersebut dan Tuhan yang tau.

Karena penasaran ane browsing-browsing dan nemu blog http://pelayanmasyarakat.blogspot.com/2011/10/tilang.html. Ane copasin aja alternatif jika agan kena tilang yaaa..Kalo mau tau lebih jelasnya, silahkan berkunjung ke blog tersebut­čśÇ

Apa yang harus saya lakukan saat kena tilang?
a. Pertama rekan-rekan harus tenang, jangan panik. Atur nafas, yakinlah bahwa tilang adalah bentuk TIPIRING atau Tindak Pidana Ringan, dimana umumnya sanksi yang dikenakan adalah DENDA, bukan PENJARA, jadi santai aja.
b. Parkir kendaraan di tempat yang aman, kunci stang bagi kendaran roda  dua. Kalau saat razia banyak pelanggar yang terjaring, tangan jahil bisa saja terjadi karena petugas polisi saat itu konsentrasi memeriksa kendaraan dan pengendara, jadi amankan kendaraan sendiri dulu.
c. Pastikan petugasnya membawa buku tilang. Langkah ini dibutuhkan untuk mengenali BAD COP. Polisi nakal seringkali tidak membawa buku tilang, hanya menakut2i pelanggar akan sidang, lalu mengajak damai.
d. Kalau sudah yakin yang menilang adalah Polantas yang baik tidak ada niat untuk melakukan pungli, rekan-rekan wajib mengetahui alternatif penyelesaian Tilang.
ALTERNATIF I
Pelanggar mengakui pelanggaran yang telah dilakukan, dan akan menyelesaikan perkara Tilang di PENGADILAN. Alternatif ini pelanggar akan menerima lembar warna MERAH
ALTERNATIF II
Pelanggar mengakui pelanggaran yang telah dilakukan, dan akan menyelesaikan denda Tilang di bank BRI. Alternatif ini, petugas akan menulis denda tertinggi yang dikenakan oleh UU pada lembar tilang, sehingga alternatif ini sekarang jarang diminta pelanggar karena untuk pasal SIM saja dikenakan denda sebesar 1 juta rupiah.  Namun apabila rekan-rekan memang memiliki uang yang cukup, silahkan minta alternatif II, dan rekan-rekan akan menerima lembar berwarna BIRU. Datang ke bank BRI dengan membayar denda MAKSIMAL disana, lalu bawa tanda bukti pembayaran ke satuan yang menilang.
ALTERNATIF III
Pelanggar mengakui pelangggaran yang telah dilakukan, dan akan menitipkan denda kepada petugas Polri. Alternatif ini ditujukan bagi pelanggar dari luar kota yang tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan sidang di Pengadilan maupun di bank BRI. Alternatif ini sering memicu terjadinya pungli. Jadi kalaupun rekan-rekan memilih alternatif ini, pastikan petugasnya menulis identitas rekan-rekan di lembar tilang, jangan sampai uang rekan-rekan diambil, namun lembar tilang tidak ditulis. Alternatif ini rekan-rekan tidak akan menerima lembar tilang, karena saat itu juga barang bukti langsung dikembalikan.
Jika pelanggar memilih Alternatif III, penukaran barang bukti yang disita dengan uang titipan sidang harus dilakukan di kantor, sehingga tidak ada kesan paksaan petugas kepada pelanggar. Pelanggar bebas memilih apakah dia nitip denda kepada petugas Polri, atau kembali kepada Alternatif I.
ALTERNATIF IV
Pelanggar tidak mengakui pelanggaran yang ditujukan kepadanya, dan pelanggar tidak mau tanda tangan. Penyelesaian alternatif IV ini akan diselesaikan di pengadilan dengan mempertemukan petugas yang menilang dengan pelanggar yang merasa tidak bersalah. Penyelesaian alternatif ini, pelanggar akan menerima dua lembar sekaligus, yaitu MERAH dan BIRU. (bagi petugas Polantas, mohon camkan baik-baik, jangan pernah memaksa pelanggar untuk tanda tangan, pelanggar tidak wajib menandatangani lembar tilang, apabila dia ingin mengajukan banding di pengadilan)
Bagaimana saya tahu kapan saya ketemu GOOD COP, kapan saya bertemu BAD COP
Gampang! Saat polisi menulis identitas rekan-rekan di┬á lembar tilang, saat itulah penindakan telah dilaksanakan dengan benar. Mengapa demikian? Satu lembar tilang itu ada nomor seri nya, ‘gak bakal lari kemana-mana. Satu lembar tilang hilang, maka yang bertanggung jawab adalah Kanit Lantas dan Kapolseknya.
Ah! Saya tetap tidak percaya kalau nitip denda kepada polisi, nanti juga masuk ke kantongnya.
Ya sudah, ambil saja lembar merahnya, datanglah ke pengadilan pada tanggal yang ditetapkan oleh petugas. (Alternatif I)
Apakah penyelesaian tilang dapat diwakilkan?
Bisa! Penyelesaian Tilang tidak harus rekan-rekan sendiri yang hadir, apabila sangat sibuk bisa dititipkan kepada keluarga, sahabat, atau rekan untuk menyelesaikannya.
Tilang saya hilang!!! Bagaimana pak?!
Gampang… Lapor ke polsek terdekat, buat surat kehilangan dengan menyebutkan tanggal penilangan, barang bukti yang disita, serta identitas dari BB yang disita tersebut, misalnya yang disita adalah SIM, maka dalam laporan disebutkan nama pemilik SIM, kalau yang disita kendaraan, maka disebutkan nomor polisi, merk, tipe, dan tahun kendaraan. Bawalah surat kehilangan tersebut ke satuan yang telah menilang rekan-rekan sebagai ganti lembar tilang.

Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang alternatif II yang denda maksimal. Emang berapa sih denda maksimalnya? Menurut UU No 22 Tahun 2009, denda didasarkan pada kesalahan yang dilakukan pengendara. Pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm standar dihukum membayar denda paling banyak Rp250 ribu. Jumlah ini bisa menjadi hanya Rp80 ribu, misalnya, bila hakim memutuskan demikian. Tidak menyalakan lampu utama motor pada siang hari didenda maksimal Rp100 ribu. Jika sepeda motor tidak memenuhi persyaratan teknis laik jalan, seperti kaca spion, klakson, lampu penunjuk arah, knalpot, atau kedalaman alur ban, pemilik motor ditilang maksimal Rp250 ribu. Pengemudi mobil dan motor yang tidak memberikan isyarat saat hendak berbelok dengan tangannya atau lampu ditilang maksimal Rp250 ribu. Melakukan kegiatan lain saat mengemudi, seperti bertelepon, didenda paling banyak Rp750 ribu. Tidak membawa SIM, maksimal denda Rp250 ribu. Tidak punya SIM, ditilang paling banyak Rp1 juta. Kendaraan yang tidak dilengkapi STNK, maksimal denda Rp500 ribu.

Jadi apa yang dialami @tatadipta jika harus membayar di BRI maka harus menyetor Rp. 250.000 dan saat sidang nanti kelebihan pembayaran bisa diambil. Keputusan denda terserah pada keputusan hakim. Biasanya sih lebih rendah dari denda maksimal. Oleh karena itu, alternatif apapun yang agan pilih asal sesuai prosedur maka denda yang agan bayar akan masuk ke kas negara. Gak mau bayar denda? Jangan melanggar dong cc: @tatadipta
sumber:
http://www.korantoba.com/2013/02/tilang-lantas.html
http://pelayanmasyarakat.blogspot.com/2011/10/tilang.html
http://www.vemale.com

2 Komentar

  1. gan saya ditilang, tapi saya ngga bawa dompet, surat-surat pun tak ada, trus gimana?

    • Sante aja gan. Agan gak akan ditilang. Naik sepeda onthel gak perlu bawa surat-surat apalagi surat MD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: